Yuk, asah ketajaman kecerdasan sosial kita!

Mengasah Ketajaman Kecerdasan Sosial

      1

      Kecerdasan sosial berkembang untuk memenuhi tantangan arus dalam sebuah kelompok. Pada manusia, kebutuhan kita akan penalaran sosial terutama koordinasi, kerjasama dan kompetisi, menggerakkan evolusi otak kita menuju kecerdasan pada umumnya. Fungsi-fungsi utama otak sosial menurut Goleman (2007) yaitu interaksi, sinkroni, jenis-jenis empati, pengertian sosial, keterampilan interaksi, dan kepedulian kepada orang lain—semuanya menunjukkan bentuk dari kecerdasan sosial. Tak hanya itu, Goleman juga membagi kecerdasan sosial menjadi dua unsur besar, yaitu kesadaran sosial dan fasilitas sosial. Dalam kesadaran sosial, meliputi : empati dasar, penyelarasan mendengarkan dengan penuh reseptivitas, ketepatan empatik, dan pengetahuan tentang pengertian sosial.

            Kecerdasan sosial memiliki fungsi sebagai penentu kesuksesan dan perbaikan pada kewajiban seseorang (Goleman, 2006), sebagai prediktor popularitas (Meijs, et al., 2008), menjadikan seseorang bermanfaat bagi lingkungan sekitar (Suyono, 2007), dan sebagai kunci inovasi dan komunikasi di dunia kerja (Beheshtifar & Roasaei, 2012). Fungsi-fungsi tersebut tak lepas dari bagaimana cara kita mengembangkan dan mengasah kecerdasan sosial.

            Menurut Sumardi (2007) pengembangan kecerdasan sosial akan lebih efektif kalau dimulai dengan merinci dan memberi fokus kepada sarana-sarana atau instrumen kecerdasan itu, seperti senyum, sikap dan pikiran terhadap orang lain, sopan santun, bahasa, komitmen, dan humor. Terlebih lagi, uniknya beberapa kecerdasan itu bekerja secara sinergi dan serentak ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain (Amstrong, 1986).

Bagaimana mengembangkan dan mengasah Kecerdasan Sosial?

2

Sumardi (2007) dalam bukunya yang berjudul Password Menuju Sukses membagi cara mengembangkan kecerdasan sosial dalam lima cara, yaitu :

a. Memanfaatkan lingkungan kerja sebagai laboratorium.

Maksudnya disini adalah kita mampu membina hubungan dengan lapisan yang berada diatas kita, setara, maupun dibawah. Ketiga lapisan ini memiliki seni berkomunikasi dan tolok ukur atau indikator keberhasilan yang berbeda. Misalnya, kita sebagai mahasiswa mampu membina hubungan yang baik dengan dosen, teman-teman dan orang-orang yang berada di lingkungan kampus. Dengan begitu, kita akan mendapatkan setiap harinya senyum yang tulus, keramah tamahan, dan relasi yang semakin banyak.

b. Aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan.

Lingkungan tempat tinggal juga sangat ideal untuk mengembangkan kecerdasan sosial. Di lingkungan tempat kita tinggal, banyak sekali kelompok-kelompok sosial, seperti pengajian, kelompok arisan, dsb. Keberhasilan kita dalam kelompok-kelompok tersebut dapat dinilai dari seberapa banyak orang yang  mengajak kita unutk berpartisipasi dalam kegiatan atau kepanitiaan. Semakin banyak orang yang mnegajak kita untuk bergabung, berarti kemampuan bergaul kita baik. Apabila sebaliknya, maka kecerdasan sosial kita belum memadai.

c. Lengkapi dengan pendidikan suplemen dan bacaan.

Pengembangan kecerdasan sosial dapat dibantu dengan pendidikan pelengkap seperti kursus kepribadian dan latihan teater. Ini akan membuat kita lebih percaya diri. Bacaan tentang kepribadian dan teknik berkomunikasi juga dapat menambah wawasan kita tentang kecerdasan sosial.

d. Aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler.

Bagi siswa atau mahasiswa, aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler di lingkungan sekolah atau kampus sangat berperan untuk meningkatkan kecerdasan sosial. Kegiatan ini dapat bermanfaat dalam pengembangan kariernya kelak apabila sudah memasuki dunia kerja.

Sama halnya dengan Sumardi, Pangkalan Ide (2010) membagi cara mengembangkan atau memperbaiki kecerdasan sosial dalam cara-cara yang sederhana, yaitu :

  1. Adakan pertemuan keluarga secara teratur di rumah.
  2. Adakan sesi sumbang saran secara berkelompok di tempat kerja.
  3. Ambil peran kepemimpinan dalam kelompok, baik di tempat kerja maupun di lingkungan tempat tinggal.
  4. Bekerjasamalah dengan orang lain.
  5. Belajar untuk lebih mendengarkan daripada berbicara. Karena kita diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut.
  6. Belajarlah dari orang-orang yang besar dan pelajarilah keterampilan yang mereka miliki.
  7. Belilah kotak kartu nama, penuhi dengan kontak bisnis, teman, kerabat, dan tetaplah menjalin hubungan dengan mereka.
  8. Tetapkan untuk mengenal teman baru setiap harinya (atau seminggu).bergabunglah dengan kelompok relawan atau kelompok yang berorientasi memberikan pelayanan.
  9. Berkomunikasilah dengan orang lain melalui media sosial.
  10. Bersikap jujur.

         Dari pengembangan kecerdasan sosial diatas, Khilstrom dan Cantor (2000) dalam Jurnal Online Psikologi (2013) mengusulkan ciri-ciri kecerdasan sosial sebagai berikut: menerima orang lain apa adanya, tepat waktu dalam membuat perjanjian, mengakui kesalahan yang diperbuatnya, menunjukkan perhatian pada dunia yang lebih luas, mempunyai hati nurani sosial, berpikir, berbicara dan bertindak secara sistematik, menunjukkan rasa ingin tahu, tidak membuat penilaian yang tergesa-gesa, membuat penilaian secara objektif, meneliti informasi terlebih dahulu sebagai bahan pertimbangan memecahkan masalah, peka terhadap kebutuhan dan hasrat orang lain dan menunjukkan perhatian segera terhadap lingkungan

Lalu, bagaimana cara sederhana mengetest kecerdasan sosial?

Coba buatlah daftar yang berisi teman dan sahabat kamu, minimal 100 orang dalam waktu 15 menit. Ayo buktikan!

 

 

REFERENSI :

http://ejournal.umm.ac.id

Goleman, Daniel. 2007. Social Intelligence: The New Sciense of Human Relationship. Terj. Hariyono S. Imam. Jakarta: Gramedia.

Pangkalan Ide. 2010. Whole Brain Training For Social Intelligent. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sumardi. 2007. Password Menuju Sukses. Jakarta: Erlangga.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)

 kecerdasan-sosial

        Kecerdasan adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan seseorang. Kecerdasan juga merupakan suatu hal yang mutlak diinginkan oleh semua orang. Stenberg & Slater (1982) mendefinisikan kecerdasan sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan adaptif.

     Kecerdasan ini tidak hanya digambarkan dengan IQ saja, namun kecerdasan dapat berupa kecerdasan emosi, spiritual, dan sosial. Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa kecerdasan intelektual-lah yang paling penting. Padahal, di samping itu ada kecerdasan sosial yang sangat berpengaruh pada intelektualitas seseorang.

       Kecerdasan sosial merupakan kemampuan seseorang untuk beradaptasi, berinteraksi atau bergaul dalam lingkungan masyarakat. Kecerdasan sosial tak lepas dari keterampilan dalam interaksi antar individu atau kelompok. Kecerdasan ini sangat berpengaruh untuk mengenali diri sendiri maupun orang lain. Setiap orang yang berinteraksi memerlukan kecerdasan sosial.

      Menurut Buzan (2007), kecerdasan sosial adalah kemampuan diri dalam bergaul di masyarakat, dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling kita. Namun, bagi Goleman (2007) kecerdasan sosial merupakan rujukan tepat bagi kecerdasan yang tak hanya tentang relasi kita dengan orang lain namun dalam relasi itu.

      Kecerdasan sosial juga bisa dikarakteristikkan sebagai sebuah kombinasi dari dasar mengerti orang lain, strategi kesadaran sosial dan paket kemampuan untuk berinteraksi secara sukses dengan orang lain (Albrecht, (tt); Albrecht, 2006). Lebih dari itu, Suyono (2007) berpendapat bahwa kecerdasan sosial merupakan pencapaian kualitas manusia mengenai kesadaran diri dan penguasaan pengetahuan yang bukan hanya untuk keberhasilan dalam melakukan hubungan interpersonal, tetapi kecerdasan sosial digunakan untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

       Penelitian Dong, Koper, dan Calloco (2008) menunjukkan bahwa kecerdasan sosial berhubungan dengan komunikasi antar budaya. Orang-orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi akan merasa selalu nyaman walaupun berada didekat orang-orang yang berlatar belakang berbeda, rentang usia yang berbeda atau bahkan perbedaan dalam status sosial. Hasil penelitian ini semakin memperkuat pentingnya kecerdasan dalam diri seseorang. Oleh karena itu, dalam tulisannya, Buzan (2007) mengatakan bahwa kecerdasan sosial diperlukan oleh perawat, resepsionis, guru, dokter, pekerja sosial, dan siapa saja yang dalam kegiatan sehari-harinya berinteraksi dengan orang lain.

Dalam mencapai kecerdasan sosial, diperlukan lima elemen. Lima elemen kecerdasan sosial menurut Karl Albrecht (2005) yang disingkat menjadi SPACE :

  1. Situational Awareness (kesadaran situational) yaitu sikap memahami atau peka terhadap kebutuhan orang lain.
  2. Presense (kemampuan membawa diri) yaitu bagaimana etika, tutur kata, dan penampilan kita dihadapan orang lain.
  3. Authenticity (autensitas) yaitu perilaku kita sebagai sinyal kepada orang lain bahwa kita dapat dipercaya. Elemen ini sangat penting untuk menjalin berbagai relasi.
  4. Clarity (kejelasan) yaitu aspek yang menjelaskan dimana kemampuan kita untuk berkomunikasi sehingga pendengar menerimanya dengan tangan terbuka.
  5. Empathy (empati) yaitu keterampilan kita untuk mendengarkan atau memahami apa maksud orang lain.

 

REFERENSI

http://ejournal.umm.ac.id

Buzan, Tony. 2007. The Power of Social Intelligence 10 Cara jadi Orang yang Pandai Bergaul. Jakarta: Gramedia.

http://strategimanajemen.net/2009/03/02/merajut-kecerdasan-sosial/

Dipublikasi di Tak Berkategori | 2 Komentar